Author Archives: archan lab

Sanggar Gandes Pamantes Helat Evaluasi Tari ke-XV

Sanggar Gandes Pamantes Helat Evaluasi Tari ke-XV

Category : Ada Apa?

Puluhan siswa mulai dari anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) hingga mahasiswa, mengikuti kegiatan evaluasi tari jaipong Sanggar Gandes Pamantes ke-XV di Transmart Yasmin, Kota Bogor. Pada hari Selasa (24/12/2019).

Evaluasi rutin bertema “Pagelaran Tari dalam Khasanah Tradisi” yang diadakan sanggar itu, dijelaskan Indi Febrianti selaku pimpinan Sanggar Gandes Pamantes, di ikuti puluhan siswa sanggarnya.

“Siswa yang mengikuti evaluasi tari sanggar tari gandes pamantes ini dari usia lima tahun sampai dengan dewasa. Untuk tarian, dari pemula satu sampai dengan terampil tujuh.” Papar Indi.

Dalam kesempatan itu pula, Indi mengucapkan syukur karena  gandes pamantes yang di berjalan 13 tahun telah berhasil meraih berbagai macam penghargaan ataupun  prestasi.

“Belum lama ini, sanggar gandes pamantes mendapatkan  penghargaan sebagai penyaji naskah terbaik dari dinas pariwisata kota bogor, dalam festival kemasan seni pertunjukan yang diadakan oleh dinas pariwisata dan kebudayaan pada Desember 2019 lalu.” Ujarnya.

Di tempat yang sama, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, H. Shahlan Rasyidi, S.E., M.M yang membuka kegiatan tersebut menyampaikan apresiasinya kepada Sanggar Gandes Pamantes sebagai salah satu sanggar yang cukup berkembang di Kota Bogor.

“Selamat dan sukses untuk sanggar gandes pamantes yang telah bisa melaksanakan evaluasi sanggar yang ke XV semoga dengan adanya evaluasi ini dapat terus meningkatkan kelestarian seni budaya di kota bogor.” Katanya.

“Harapan kami semoga sanggar gandes pamantes dapat terus bersinergi dan maju  serta berkembang untuk mengembangkan seni tari yang ada di kota bogor. Selain itu, semoga anak anak yang ikut kegiatan evaluasi sanggar gandes pamantes dapat terinovasi untuk meningkatkan keterampilannya.” Ujar Shahlan lebih lanjut.

Terlepas dari hal itu, Shahlan  juga menuturkan bahwa evaluasi ini bukan semata-mata untuk mencari yang terbaik, tetapi nilai luhur dari itu semua adalah menyadarkan anak-anak dan remaja bahwa ada nilai-nilai kesenian dan kebudayaan yang tidak kalah oleh kebudayaan-kebudayaan lain.

“Karena seni adalah kearifan lokal yang harus kita jaga dan kita lestarikan demi kemajuan bangsa Indonesia sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia itu sendiri.” Tandasnya.


PHOTO CREDIT: Puluhan siswa mulai dari anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) hingga mahasiswa, mengikuti kegiatan evaluasi tari jaipong Sanggar Gandes Pamantes ke-XV di Transmart Yasmin, Kota Bogor. FILE/DOK. PHOTO SANGGAR GANDES PAMANTES

Baca Juga : Yuk, Kita Menari dan Jaga Tradisi


Tari Sigeh Penguten, Tarian Penyambut Tamu Istimewa khas Lampung

Tari Sigeh Penguten, Tarian Penyambut Tamu Istimewa Khas Lampung

Category : Ada Apa?

Bandar Lampung ini menjadi gerbang Sumatra untuk Pulau Jawa. Lampung tidak kalah eloknya dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Selain keragaman kuliner, budaya dan seni yang dimiliki provinsi ini pun unik dan memperkaya kebudayaan bangsa. Seperti Tari Sigeh Penguten yang merupakan salah satu tari kreasi baru dari daerah Lampung.

Awalnya tari ini bernama tari Melinting dan tari Sembah, namun baik tari Melinting maupun tari Sembah telah dikukuhkan namanya menjadi tari Sigeh Penguten. Tari Sigeh Penguten merupakan perpaduan budaya antara kedua suku Lampung yakni Pepadun dan Saibatin.

Tari sigeh penguten ini adalah sebuah tari yang mempunyai fungsi sangat besar dalam adat Lampung. Yaitu sebagai tari untuk penyambutan tamu Agung dalam sebuah acara seperti adat gawe budaya Lampung.

Melalui Peraturan Daerah, tari sigeh penguten diresmikan sebagai tarian Lampung dalam penyambutan tamu penting. Mungkin lantaran tari ini menggambarkan kegembiraan atas tamu Agung yang diundang. Dalam tari ini dalam gerakannya para penari mengekspresikan keluesan, keramahan dan penuh kehangatan.

Proses lahirnya tari sigeh penguten tak lepas dari realitas budaya Lampung yang ter-dikotomi (pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan) menjadi Pepadun dan Peminggir. Kedua adat yang memiliki kekhasan tersendiri sama-sama merasa paling layak merepresentasikan Lampung.

Tari sigeh penguten merupakan sintesis (perpaduan atau campuran) dari dua indentitas kebudayaan yang ada di Lampung. Tari ini menyerap gerak tarian baik dari adat Pepadun maupun adat Peminggir menjadi satu kesatuan yang harmonis dan dapat diterima masyarakat luas.

Salah satu ciri dalam tari sigeh penguten yang merupakan unsur asli dari tari sembah adalah aksesori yang dikenakan para penari. Sesuai namanya, aksesori utama yang digunakan adalah siger – mahkota berwarna emas yang telah menjadi identitas daerah Lampung.

Aksesori lain yang digunakan pada jemari tangan penari sigeh penguten adalah tanggai, yaitu penutup jari berbentuk kerucut berwarna emas. Selain kedua aksesori tadi, penari sigeh pengunten juga mengenakan papan jajar, gelang kano, gelang burung, kalung buah jukum, dan pending

Dalam gerakannya tari ini mempunyai berbagai macam nama seperti gerakan “jong silo Ratu”, “sigeh penguten”, kilat mundur, tangan tubuh gakhang, tangan lipetto, tangan maku racang, tangan maku raccing dan banyak lagi.


PHOTO CREDIT :  Tim Sanggar tari Gandes Pamantes bawakan tarian Sigeh Panguten khas lampung dalam acara penikahan. FILE/DOK/PHOTO Sanggar Gandes Pamantes

Video berikut adalah penampilan dari Sanggar Tari gandes Pamantes, yang membawakan Tarian Sigeh Panguten sebagai tari untuk penyambutan Tamu Agung dalam sebuah acara Pernikahan budaya Lampung.

Sanggar Tari Gandes Pamantes – Tari Sigeh Panguten:

Hanupis!🙏

Baca Juga : Sanggar Gandes Pamantes bawakan Tari Bapang di Turnamen Golf


Sanggar gandes pamantes, Ini tantangan kita bersama!

Ini tantangan kita bersama!

Budaya adalah suatu warisan atau leluhur dari nenek moyang kita yang tidak ternilai harganya. Bahkan, warisan budaya itu semua adalah cerminan, bahwa leluhur kita bangsa Indonesia memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam menciptakan karya budaya beserta berbagai simbol filosofinya.

Sangat di sayangkan sekali setelah adanya banyak pengakuan dari negara lain tentang khas budaya kita, salah satunya adalah tari khas di ponogoro yang di claim oleh negara lain dan dengan adanya pengakuan tari khas itu barulah kita menyadari bahwa kita harus melestarikan budaya kita.

Budaya itu sangatlah perlu untuk di lestarikan dan salah satu caranya adalah kita mau belajar menari, bahkan kalau kita mampu kita juga harus bisa mengajarkannya kepada anak-anak yang masih dini karena pada dasarnya merekalah yang akan menjadi penerus bangsa yang akan memimpin negeri kita tercinta ini.

Anak-anak sejak dini perlu diberi pemahaman bahwa budaya kita mencerminkan nilai-nilai moral bangsa Indonesia dan identitas bangsa di tengah-tengah masyarakat dunia. Jika bangga dan mencintai budaya asli kita sendiri, maka bangsa lain akan mengetahui asal-usul kita dan menghargai serta menghormati kita.

Di sini perlu ditekankan pula, bahwa mencintai budaya bangsa sendiri, bukan lantas bisa dikatakan kuno dan ketinggalan jaman. Paradigma ini yang perlu dipegang oleh generasi milenial sekarang ini. Justru mencintai kebudayaan bangsa sendiri adalah kekuatan untuk mendobrak budaya asing yang akan masuk di Indonesia.

Di samping itu, citra kemandirian bangsa Indonesia akan tampak, jika bangsa Indonesia tetap menjaga kelestarian budayanya.

Ini adalah tantangan kita bersama!

Maka dari itu,  jika kita lalai akan budaya sendiri, sama saja mencabut akar dari budaya Indonesia. Hingga akan melahirkan budaya yang tak beridentitas lantaran terjebak kepada euforia budaya asing yang tak jelas arahnya. Bagaimana menurut kamu guys?


PHOTO CREDIT : Penari muda dari Sanggar gandes Pamantes usai menarikan Tari Yapong di Panggung Seni Anjungan Jawa Barat, TMII. FILE/DOK. PHOTO SANGGAR GANDES PAMANTES

Baca Juga : Yuk, Kita Menari dan Jaga Tradisi


ilustrasi Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia gandes pamantes

Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia

Perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi belakangan ini tentu saja membuat keresahan. Terkadang musim hujan yang terlampau panjang hingga menyebabkan banjir ataupun kemarau yang tidak berkesudahan sehingga pengairan kering. Namun, Tahukah kamu bagaimana dulu nenek moyang kita mengatasi musim kemarau?

Nah dari dulu, nenek moyang kita ternyata sudah memiliki cara untuk meminta hujan. Berbagai daerah di Indonesia memiliki ritual uniknya tersendiri guna memanggil hujan, salah satunya melalui tarian. Lalu tarian yang bagaimana untuk memanggil hujan? Penasaran?! Yuk simak bareng info unik ini bareng Gandes.

Tari Sintren

tari sintren Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia

Tari Sintren adalah tarian tradisional masyarakat Jawa tepatnya di daerah Cirebon Jawa Barat.

Tari Sintren adalah tarian tradisional masyarakat Jawa tepatnya di daerah Cirebon Jawa Barat. Tari ini juga disebut dengan lais yaitu bentuk tari-tarian dengan aroma mistis nan magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dan diiringi gending 6 orang. Gadis tersebut dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang berselebung kain. Pawang atau dalang kemudian berjalan memutari kurungan ayam itu sembari merapalkan mantra memanggil ruh Dewi Lanjar.

Jika pemanggilan ruh Dewi Lanjar berhasil, maka ketika kurungan dibuka, sang gadis tersebut sudah terlepas dari ikatan dan berdandan cantik, lalu menari diiringi gending.

Tari Gundala – Gundala Karo

Tari Gundala – gundala karo merupakan tarian yang berasal dari Kabupaten Karo, terletak di kawasan Bukit Barisan, Sumatera Utara.

Tari Gundala – gundala karo merupakan tarian yang berasal dari Kabupaten Karo, terletak di kawasan Bukit Barisan, Sumatera Utara. Tarian Gundala – Gundala Karo memiliki tujuan untuk memanggil hujan atau dalam bahasa batak di sebut Ndilo Wari Udan. Para penari Gundala – Gundala menggunakan kostum dengan pakaian seperti jubah dan topeng yang terbuat dari kayu.

Alkisah, zaman dahulu terjadi kesalahpahaman antara putri seorang raja dan seekor burung Gurda – Gurdi. Awalnya mereka bersahabat, namun burung Gurda – Gurdi memiliki pantangan yaitu apabila ada bagian tubuhnya terpegang oleh manusia ia akan menjadi berang dan marah.

Tanpa sengaja putri memegang paruh burung Gurda – Gurdi ketika sedang bercanda. Burung Gurda – Gurdi pun berang, lalu untuk kedua kalinya suami sang putri juga memegang bagian tubuh burung Gurda – Gurdi untuk menenangkan.  Akhirnya berakhir pertempuran antara pangeran dan burung Gurda-gurdi. Hingga berakhir dengan meninggalnya burung Gurda-gurdi.

Setelah meninggal para manusia baru menyadari bahwa hal tersebut hanyalah karena kesalahpahaman. Pada hari meninggalnya burung Gurda – Gurdi hari seketika mendung dan hujan turun dengan derasnya.

Tarian Suling Dewa

Tarian Suling Dewa Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia

Suling dewa merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tarian Suling dewa merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tarian ini hanya digelar ketika musim kemarau melanda. Tujuannya tentu saja untuk memohon turunnya hujan. Kesenian ini lahir ketika wilayah Bayan dilanda musim kemarau yang berkepanjangan.

Sebelum tarian berlangsung, masyarakat Bayan menentukan hari, waktu, dan tempat yang dinilai baik untuk melaksanakan ritual tersebut. Selain itu, masyarakat Bayan juga menyiapkan sesaji berupa kembang, makanan dan kapur sirih. Kapur sirih ini menjadi komponen yang paling penting dan dipercaya dapat mendatangkan hujan.

Keunikan lain yaitu dalam suling yang digunakan, ada sebuah pemahaman filosofis yang begitu mendasar dan mulia. Alat musik seruling ini menggambarkan wujud manusia, apabila seruling ini tidak diberikan hembusan nafas, maka tidak akan menghasilkan nada-nada indah. Begitu juga dengan manusia, bila raga tanpa atma atau roh, tentu tidak akan ada kehidupan.

Tari Sabet

Tari Sabet Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia

Tradisi tari sabet merupakan budaya masyarakat yang berasal dari Banjarnegara, Desa Karangjati.

Tradisi tari sabet merupakan budaya masyarakat yang berasal dari Banjarnegara, Desa Karangjati. Tari sabet ini salah satu bagian dari ritual Ujungan. Ujungan adalah pertarungan rotan antara dua orang yang diselingi dengan menari dan hanya diperbolehkan memukul kaki.

Melalui Tari Sabet, para warga untuk meminta hujan apabila kemarau panjang. Ritual ini hampir mirip dengan tradisi Tiban dari Blitar, Jawa Timur.

Menarik ya! Sepertinya memang ritual di Indonesia selalu dikaitkan dengan pertunjukan seni. Tidak hanya dalam bentuk lagu namun juga bentuk tarian. Meskipun saat ini perkembangan zaman sudah sangat maju, semoga keunikan ini tetap dapat lestari sampai kapan pun ya. Kalau di daerahmu tarian memanggil hujan itu seperti apa guys?


PHOTO CREDIT : Ilustrasi Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia. PHOTO IST

Sumber : info budaya

Baca Juga : Tari Lenggang Nyai, Representasi Semangat Kebebasan Wanita Betawi


Sanggar Gandes Pamantes Raih Penghargaan Naskah Terbaik

Sanggar Gandes Pamantes Raih Penghargaan Naskah Terbaik

Category : Ada Apa?

Sanggar Gandes Pamantes yang membawakan tari Topeng Gengges berhasil raih penghargaan untuk kategori naskah terbaik dalam Festival Kemasan Seni Pertunjukan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor di Gedung Kemuning Gading, Komplek Balai Kota, Kamis (28/11/2019).

Tari Topeng Gengges ini merupakan sebuah tari kontemporer yang disesuaikan dengan kehidupan jaman sekarang. Dimana didalamnya menggambarkan ragam warna warni sifat dari kehidupan remaja yang sedang berkelompok.

Aspek sifat remaja dalam Tari Topeng Gengges ini sangatlah bervariasi, termasuk Labil, genit, riweh serta banyak gaya dalam mengekspersikan gestur maupun mimik muka yang lucu dan terkadang justru mengganggu sekitar. Keadaan seperti ini oleh anak-anak millenial zaman sekarang yang kerap disebut sebagai Gengges.

Seperti diketahui, tari ini memiliki keragaman gaya tarian, dan tentunya termaksud refleksi warna warni dari kehidupan remaja dengan kekhasan tersendiri.

Para penari di dalam tari Topeng Gengges ini tampil dengan rambut tersanggul dan membawa kain yang berwarna, seperti merah, coklat, merah muda, hijau dan ungu. Tapi semuanya masih mengacu pada busana tradisional yang kental, seperti kostum kebaya kuning yang dikenakan masing-masing penari namun tetap memberikan kesan dinamis, dengan riasan natural.

Disamping itu, properti yang digunakan oleh ketujuh penari Topeng Gengges ini berupa topeng yang mengekspresikan dengan beragam mimik yang sarat banyol.

Terkait Iringan musik yang mengiringi Tari Topeng Gengges, sarat akan unsur musik tradisional seperti Kendhang, Bonang, Sarong, yang kesemuanya menghadirkan ambiance akan perpaduan musik tradisional yang dapat pula dinikmati para millenial.


PHOTO CREDIT :  Tim Sanggar tari Gandes Pamantes usai membawakan tarian Topeng Gengges di Festival Kemasan Seni pertunjukan Bogor 2019. FILE/DOK. PHOTO IST

Artikel ini telah tayang di ACS BLOG.

Baca Juga : Sanggar Gandes Pamantes bawakan Tari Bapang di Turnamen Golf POLINEMA CUP V


Festival Kemasan Seni Pertunjukan 2019 - Gandes Pamantes

Kota Bogor kembali menyuguhkan Festival Kemasan Seni Pertunjukan 2019

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor kembali menyuguhkan Festival Kemasan Seni Pertunjukan guna memberi ruang pada para pelaku seni dan mendorong mereka menggali serta menciptakan karya-karya seni baru yang otentik, di gedung Kemuning Gading, Rabu (28/11/2019) malam.

Kepala Disparbud Kota Bogor, Shahlan Rasyidi mengatakan bahwa tujuan utama festival ini antara lain untuk memberikan ruang apresiasi bagi para pelaku seni di Kota Hujan yang rutin setiap tahun diselenggarakan.

“Yang dimaksud kemasan disini adalah inovasi. sehingga para pelaku seni harus mampu menciptakan inovasi-inovasi baru dalam seni yang ditampilkannya, tidak boleh mencontek atau menyadur dari karya orang lain, harus murni karya sendiri,” katanya.

Shahlan juga menuturkan bahwa dirinya sangat puas dengan kreativitas dan inovasi yang telah ditampilkan para peserta tahun ini. Tidak saja menarik secara visual, namun sarat nilai seni dan kemasannya.

“Sanggar-sanggar sangat begitu kreatif dan inovatif dalam memberikan suguhannya di acara Festival Kemasan Seni Pertunjukan kali ini. Semuanya tampil sangat memukau dan menyulitkan dewan juri dalam memberikan penilaian, karena secara poin pun tidak terlalu jauh,” tuturnya.

Dari sembilan sanggar tari yang mengikuti Festival Kemasan Seni Pertunjukan tahun ini, Sanggar Bagaskara berhasil tampil menjadi penyaji terbaik dalam Festival Kemasan Seni, Sementara Sanggar Gapura Emas dari Kabupaten Sukabumi berhasil mendapatkan penghargaan sebagai koreografer terbaik.

Sedangkan penghargaan musik terbaik diraih Sanggar Dewi Ulum, penghargaan artistik terbaik diberikan kepada Sanggar Dewi Sri, dan Sanggar Gandes Pamantes berhasil meraih penghargaan untuk naskah terbaik.

Perlu diketahui, Selain dihadiri langsung Kepala Disparbud Kota Bogor, Festival Kemasan Seni Pertunjukan juga turut disaksikan Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) Usmar Hariman dan Kasie Pengembangan Seni Perfilman dan Kelembagaan pada Disparbud Kota Bogor Sanusi serta ratusan penonton dan masing-masing pendukung sanggar.

“Melalui Festival Kemasan Seni Pertunjukan diharapkan lahir karya-karya baru yang akan menambah khasanah kekayaan seni budaya di Kota Bogor khususnya dan Jawa Barat pada umumnya,” tandas Shahlan.


PHOTO CREDIT :  Penari Sanggar tari Gandes Pamantes saat menarikan Topeng Gengges di Festival Kemasan Seni pertunjukan Bogor 2019. FILE/DOK. PHOTO IST

Berita Ini telah tayang di telegraf.co.id.

Baca Juga : Pesan kearifan lokal lewat seni tari sunda


Sanggar gandes pamantes bangun karakter dini melalui tari tradisi

Bangun Karakter Dini Melalui Tari Tradisi

Seni tradisional banyak memberikan kontribusi pada peserta didiknya, termasuk membentuk karakter. Bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi bantu merasakan  nilai-nilai yang baik, mau dan mampu melakukannya.

Gandespamantes.org- Pendidikan merupakan aspek penting yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Agar setiap manusia mampu bertahan dan menjalani kehidupan masa depannya dengan terarah. Seperti halnya seni tradisional yang banyak memberikan kontribusi pada peserta didiknya, termasuk membentuk karakter.

Mata pelajaran seni tidak dapat digantikan oleh mata pelajaran lain, Kedudukannya sebagai aesthetic needs dalam mata pelajaran memiliki fungsi yang unik. Berdasarkan berbagai kajian dan penelitian, ditemukan bahwa pendidikan seni memiliki keunikan peran atau nilai strategis dalam pendidikan sesuai perkembangan jaman  dan perubahan dinamika dalam masyarakat.

Karena itulah, pada masa lalu, seni tari yang berkembang di Indonesia terutama tari-tari yang diajarkan pada lingkungan keraton dan sekolah merupakan tari tradisional  yang bergaya klasik, yang cenderung memiliki pakem serta nilai-nilai hingga menelurkan tingkah laku karakter yang baik.

Pembelajaran tari dapat membantu membentuk karakter peserta didik. Aspek nilai, norma dan ritual tidak terlepas dari sebuah karya tari. Setiap tarian berisi pesan dan moral kebudayaan. Dapat diartikan bahwa pembentukan karakter dilakukan melalui proses apresiasi dan kreativitas tari. Kolaborasi antara pikiran, perasaan dan tindakan dibutuhkan sebagai pemacu.

Namun, membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya yang terus menerus dilakukan. Refleksi yang mendalam perlu dilakukan untuk membuat Moral Choice yang mampu ditindaklanjuti secara nyata sehingga menjadi hal yang reflektif.

Melalui pendidikan seni tari, sikap estetis pada siswa akan terbentuk sehingga tercipta manusia Indonesia dengan karakter yang seimbang, baik dalam perkembangan pribadi, lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, serta hubungan dengan Tuhan.

Sehingga, seni memiliki potensi yang besar tidak hanya sebagai hiburan saja. Efektivitas seni sebagai penyampaian pesan dilakukan dengan sentuhan keindahan. Melalui seni seluruh bagian otak terlibat dalam pemrosesan pesan yang sangat penting untuk pembentuk karakter dan peserta didik tari. Dan hal tersebut alangkah baiknya jika di bentuk sejak dini.


PHOTO CREDIT : Murid Penari Sanggar tari Gandes Pamantes berlatih menari yang cenderung memiliki pakem serta nilai-nilai hingga menelurkan tingkah laku karakter yang baik . FILE/DOK. PHOTO SANGGAR TARI GANDES PAMANTES

Baca Juga : 7 Manfaat Menari Untuk Sang Buah Hati


Sanggar Gandes Pamantes bawakan Tari Bapang di Turnamen Golf POLINEMA CUP V

Sanggar Gandes Pamantes bawakan Tari Bapang di Turnamen Golf POLINEMA CUP V

Malang sangat kaya dengan ragam kesenian serta budaya dan yang paling menarik dalam tari tradisinya adalah Tari Topeng Bapang.

Gandespamantes.org- Sanggar Tari Gandes Pamantes menghadirkan tarian Bapang sebagai tarian pembuka dalam acara rutin tahunan turnamen golf bertajuk Direktur Polinema Cup V yang digelar Ikatan Alumni Politeknik Negeri Malang (IKA Polinema), di Sentul Highland Golf Club, pada hari Minggu (20/10/2019).

Perlu diketahui, Malang sangat kaya dengan ragam kesenian dan salah satunya adalah tari topeng malang. Selama ini masyarakat banyak mengenal ragam tarian topeng diantaranya Tari Topeng Grebeg Jowo, Grebeg Sabrang, Gunungsari, Ragil Kuning, dan tak Ketinggalan yang paling menarik adalah Tari Topeng Bapang.

Tarian bapang menceriterakan kisah perjalanan  Bapang Jayasentika adipati Banjarpatoman mneghadap Prabu Klana Sewandana. Bapang memiliki sifat adigang adigung—sombong, terlalu membanggakan dirinya sebagai orang yang  kuat dan cerdas, gila sanjungan, menggunakan volume besar, distorsi topeng  yang berlebihan (hidung yang sangat panjang), serta cara mengenakan jamang terbalik.

Di Senggreng Bapang ditafsirkan sebagai tarian Baladewa memiliki watak pemberani, berangsan. Tarian bapang dimulai dari Gedruk Gawang yaitu gerakan kaki menghentak ketanah dua tangannya mempermainkan selambu yang dipasang pada gawang sebagai pintu memasuki arena pentas. ketika menghentakan kaki maka gongseng yang dikenakan pada kaki menghasilkan bunyi sesuai dengan irama gamelan.

Tarian bapang diiringi dengan permainan gamelan lengkap untuk memainkan gending kalongan laras pelog patet bem. Gending ini juga disebut gending kempul papat karena dalam satu gongan terdapat empat kali pukulan Kempul.

Demikian, berharap semakin banyak generasi muda yang menekuni maupun kegiatan yang mengedepankan seni tradisional di daerahnya masing-masing sebagai salah satu kekayaan budaya yang sudah sepatutnya kita banggakan!


Photo Credit : Para penari dari Sanggar Gandes Pamantes bawakan Tari topeng Bapang di Turnamen Golf POLINEMA CUP V. FILE/Dok. Photo SANGGAR TARI GANDES PAMANTES

Video berikut adalah penampilan dari murid Sanggar Tari gandes Pamantes, yang membawakan tari bapang dan ditafsirkan sebagai tarian Baladewa memiliki watak pemberani, berangsan.

Sanggar Tari Gandes Pamantes – Tari Topeng Bapang:

Hanupis!🙏

Baca Juga :  Gandes Pamantes, Raih Juara Ke-1 di Ajang Remaja Putri Kreatif 2019


sanggar gtari gandes pamantes membawakan tari Lenggang Nyai

Tari Lenggang Nyai, Representasi Semangat Kebebasan Wanita Betawi

Banyak pesan dan makna yang ingin disampaikan melalui tarian Lenggang Nyai ini, terutama pesan mengenai kebebasan wanita.

Gandespamantes.org- Menurut sejarahnya, Tari Lenggang Nyai ini di ciptakan oleh seorang seniman tari dari Yogyakarta bernama Wiwik Widiastuti, seorang seniman yang sangat mencintai kebudayaan Indonesia dan bersumber dari cerita rakyat Betawi, yaitu Nyai Dasimah.

Nama Tari Lenggang Nyai sendiri berasal dari kata “lenggang” yang berarti “melengak – lengok” dan kata “nyai” yang terinspirasi dari kisah cinta perempuan Betawi bernama Nyai Dasima.

Menurut ceritanya, Nyai Dasimah merupakan seorang wanita cantik dari Betawi yang menikah dengan opsir Belanda bernama Edward William. Meski bergelimang harta tetapi status sebagai isteri kedua menjadikan hidupnya tidak nyaman, akibat belenggu peraturan dari sang suami yang harus dipatuhinya. Ia pun memberontak atas kesewenang-wenangan suaminya.

Nyai Dasima kemudian berjuang untuk mendapatkan kebebasan dan cinta sejatinya dalam sosok seorang kusir delman bernama Samiun yang sering mengantarnya berpergian. Perjuangan itulah yang menginspirasi Wiwiek Widiyastuti menciptakan tari Lenggang Nyai.

Dalam pertunjukannya, penari menari dengan gerakan lincah yang mengandung 32 unsur gerak yang dibawakan secara dinamis oleh 5-8 orang penari perempuan. Serta menggambarkan keceriaan dan keluwesan gadis Betawi, dengan mengusung nilai moral tentang keserakahan, penyesalan, dan cinta sejati.

Hal yang unik dari Tari Lenggang Nyai adalah perpaduan unsur budaya Cina dan Betawi dalam busana yang dikenakan. Biasanya busana penari Lenggang Nyai menggunakan warna terang, seperti warna hijau terang dan merah terang.

Selain itu pada bagian kepala dihiasi dengan hiasan seperti mahkota yang identik dengan budaya Cina. Pada pertunjukan tarian ini juga di iringi dengan musik tradisional Betawi, yaitu Gambang kromong.

Itulah sekelumit cerita tentang Tari Lenggang Nyai! Semoga sedikit informasi ini mampu memberikan inspirasi bagi kita semua!


Photo Credit : Penari Sanggar gandes pamantes bawakan tari Lenggang Nyai yang terinspirasi dari kisah cinta perempuan Betawi bernama Nyai Dasima. FILE/Dok. Photo SANGGAR TARI GANDES PAMANTES

Video berikut adalah penampilan dari murid Sanggar Tari gandes Pamantes, yang membawakan Tari Lenggang Nyai yang mengusung nilai moral tentang keserakahan, penyesalan, dan cinta sejati.

Sanggar Tari Gandes Pamantes – Tarian Lenggang Nyai:

Hanupis!🙏

Baca Juga : Penari Tari Merak Nan Menawan


sanggar tari gandes pamantes menari di hari jadi bogor

Yuk, Kita Menari dan Jaga Tradisi

Tarian tradisional mampu hadirkan makna  serta  merepresentasikan nilai- nilai penting untuk setiap wilayah di Indonesia.

Gandes Pamantes.org- Sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia khususnya pelajar dan mahasiswa, harus bisa memilah apa yang masuk dari luar artinya kita harus bisa memilih dan menyaring mana yang lebih baik dan positif untuk kita ikuti. Bukan sekedar ingin mengikuti tren yang sudah ada tanpa mem-filter terlebih dahulu.

Terlebih lagi, dengan keanekaragaman kebudayaannya, Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi sekaligus memiliki karakteristik tersendiri.

Ya, tarian daerah Indonesia ini memiliki nilai kemanusiaan, nilai keharmonisan, nilai kerpercayaan, hingga nilai adat istiadat yang berbeda-beda untuk tiap negaranya. Tak hanya sarat akan nilai-nilai penting di dalamnya, gerakan hingga busana yang digunakan saat menari daerah juga sangat menarik dan memiliki cerminan dari budaya setempat.

Hingga, tari tradisional belakangan ini tak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, macam-macam tarian daerah dan penjelasannya pun sudah sangat dikenal oleh wisatawan mancanegara sekalipun. Hal ini dikarenakan macam-macam tarian daerah tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi.

Sayangnya, seperti yang kita lihat saat ini banyaknya mayoritas orang-orang sudah mengabaikan indahnya seni tari tradisional Indonesia yang memiliki makna mendasar, tak sedikit anak muda lebih senang menarikan tarian modern.

Kurangnya kesadaran akan kecintaan kepada seni tari tradisional membuat perlahan-lahan eksistensinya berkurang. Padahal jika dicermati, tak sedikit negara lain yang ingin mengklaim tari-tarian yang dimiliki Indonesia seperti tari pendet yang berasal dari Bali diklaim oleh negara lain. Itu semua menunjukkan bahwa seni tari yang kita miliki sangat berpengaruh besar terhadap dunia internasional.

Ironisnya, generasi muda adalah generasi penerus yang seharusnya bisa memilah budaya yang masuk ke dalam budaya Indonesia, bukan justru menikmati budaya asing yang  masuk bahkan hingga mengunggah ke jejaring sosial dan mungkin saja mereka tidak tahu yang sebenarnya asal usul dan maksud dari tarian tersebut.

Sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia khususnya generasi muda, harus bisa memilah apa yang masuk dari luar serta pengaruhnya. Yuk, Kita Menari dan Jaga Tradisi! Guna kembangkan dan lestarikan kembali tarian tradisional cipta karya bangsa kita “Indonesia”.


PHOTO CREDIT : Sanggar tari Gandes Pamantes Dalam acara menari tari tradisional. FILE/DOK. PHOTO SANGGAR TARI GANDES PAMANTES

Baca Juga : Bagi Gandes Pamantes, Menari Adalah Siratan Ekspresi


× How can we help you?
WhatsApp chat