Belajar tari bukan hanya tentang menghafal gerakan. Di dalamnya ada proses belajar fokus, disiplin, percaya diri, bekerja sama, berekspresi, dan mengenal budaya.
Pernahkah Ayah dan Ibu memperhatikan anak ketika melakukan sesuatu yang benar-benar ia sukai?
Awalnya mungkin ia belum bisa.
Gerakannya masih salah. Ia lupa urutan. Kadang ia tertinggal mengikuti musik.
Namun, ia mencoba lagi.
Dari situlah proses belajar dimulai.
Anak bukan hanya belajar menari. Ia juga sedang belajar tentang dirinya sendiri.
Belajar Tari Bukan Sekadar Menghafal Gerakan
Bagi orang tua, memilih kegiatan anak tentu membutuhkan pertimbangan.
Apakah anak menyukainya?
Apakah kegiatannya positif?
Apakah sesuai dengan minatnya?
Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
“Apa yang dipelajari anak selama mengikuti kegiatan tersebut?”
Hasilnya tidak selalu berupa piala atau sertifikat.
Anak yang awalnya malu bisa mulai berani mencoba. Anak yang mudah menyerah bisa belajar mengulang. Anak yang terbiasa sendiri mulai belajar mengikuti kelompok.
Perubahan kecil tersebut merupakan bagian dari proses tumbuh anak.
Tari Mengajarkan Anak untuk Fokus
Saat latihan, anak perlu memperhatikan instruksi, melihat contoh gerakan, mengikuti hitungan, dan mendengarkan musik.
Kemudian, ia mencoba menyesuaikan gerakannya.
Proses ini membutuhkan perhatian.
Tentu setiap anak memiliki karakter berbeda. Belajar tari juga tidak otomatis membuat semua anak menjadi lebih fokus.
Namun, latihan memberikan kesempatan kepada anak untuk mempraktikkan kebiasaan memperhatikan sesuatu secara bertahap.
Ketika salah, ia mencoba kembali.
Ketika tertinggal, ia mengikuti lagi.
Dengan demikian, anak belajar bahwa latihan merupakan bagian dari keberhasilan.
Anak Belajar bahwa Tidak Semua Hal Harus Langsung Bisa
Satu gerakan mungkin terasa sulit pada latihan pertama.
Anak bisa lupa.
Bisa salah arah.
Bisa tertinggal dari teman.
Namun, selalu ada kesempatan untuk mencoba lagi.
Pengalaman seperti ini penting karena anak mulai mengenal hubungan antara usaha dan hasil.
Gandes Pamantes juga memiliki kegiatan evaluasi seni tari secara berkala. Dalam dokumentasi evaluasi ke-XI tahun 2017, tercatat 79 siswa mengikuti evaluasi tari Jaipong.
Evaluasi tersebut menjadi bagian dari proses untuk melihat perkembangan murid setelah mengikuti latihan.
Pesertanya juga berasal dari berbagai jenjang usia, mulai dari TK hingga mahasiswa.
Artinya, kemampuan tumbuh melalui proses. Ada latihan, evaluasi, dan kesempatan untuk berkembang.
Dari Tari, Anak Belajar Disiplin dan Bekerja Sama
Anak yang ingin menguasai gerakan perlu berlatih.
Anak yang ingin tampil bersama teman perlu mengingat bagiannya.
Sementara dalam tari kelompok, ia juga harus memperhatikan orang lain.
Kapan bergerak?
Kapan berhenti?
Ke mana arah gerakan?
Apakah jaraknya sudah tepat?
Dari pengalaman tersebut, anak belajar bahwa sebuah pertunjukan tidak hanya bergantung pada satu orang.
Setiap anggota memiliki peran.
Pengalaman bekerja dalam kelompok juga dapat menjadi bekal ketika anak berinteraksi dengan orang lain di sekolah maupun lingkungan sosialnya.
Tari Memberi Ruang untuk Berekspresi
Tidak semua hal harus disampaikan melalui kata-kata.
Gerakan dapat bercerita.
Ekspresi dapat menunjukkan suasana.
Musik dapat membangun emosi.
Karena itu, tari memberi anak ruang untuk berekspresi secara kreatif.
Bagi sebagian anak, ruang seperti ini sangat berarti.
Mereka tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar secara akademik.
Anak juga membutuhkan ruang untuk mencoba, mencipta, dan mengekspresikan dirinya.
Mengenal Budaya Melalui Pengalaman
Mengenalkan budaya kepada anak tidak harus selalu melalui buku.
Anak dapat mengenalnya melalui musik, gerakan, kostum, cerita, dan pertunjukan.
Dengan cara tersebut, budaya tidak hanya menjadi informasi.
Budaya menjadi pengalaman.
Hal ini semakin menarik di tengah dunia digital. Anak kini dapat mengenal berbagai budaya dari berbagai tempat.
Namun, mengenal budaya sendiri tetap penting.
Gandes Pamantes menjadi salah satu ruang bagi anak untuk mengenal seni tari Sunda dan tari Nusantara melalui latihan serta pengalaman pertunjukan.
Keberanian Tumbuh Sedikit demi Sedikit
Tidak semua anak langsung percaya diri ketika tampil di depan orang lain.
Ada yang gugup.
Ada yang memilih berada di belakang.
Ada pula yang baru berani ketika bersama teman.
Tidak masalah.
Keberanian membutuhkan proses.
Hari ini mungkin anak hanya mau mengikuti latihan.
Besok ia berani mencoba gerakan di depan teman.
Suatu hari, ia mungkin siap tampil di atas panggung.
Keberanian tidak selalu datang sekaligus. Kadang ia tumbuh dari langkah-langkah kecil.
Orang Tua Tidak Hanya Melihat Hasil
Di media sosial, kita sering melihat hasil akhir.
Anak tampil percaya diri.
Anak mendapatkan penghargaan.
Anak terlihat hebat di atas panggung.
Namun, ada proses panjang yang tidak terlihat.
Ada latihan.
Ada kesalahan.
Ada koreksi.
Ada evaluasi.
Kemudian ada latihan berikutnya.
Karena itu, ketika anak tampil, yang terlihat sebenarnya hanya bagian kecil dari perjalanannya.
Orang tua juga dapat belajar untuk menghargai proses tersebut.
Bukan hanya bertanya, “Menang atau tidak?”
Tetapi juga:
“Apa yang sudah kamu pelajari hari ini?”
Lebih dari Sekadar Menari
Tidak semua anak yang belajar tari akan menjadi penari profesional.
Dan itu tidak masalah.
Kelak ia mungkin menjadi dokter, guru, pengusaha, desainer, atau memilih profesi lain.
Namun, pengalaman belajar seni tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Ia pernah belajar menghafal.
Pernah melakukan kesalahan.
Pernah mencoba kembali.
Pernah bekerja bersama teman.
Pernah merasa gugup.
Dan pernah berani tampil.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Apakah anak saya akan menjadi penari?”
Melainkan:
“Apa yang sedang tumbuh dalam diri anak saya ketika ia belajar menari?”
Untuk Ayah dan Ibu
Jika anak tertarik dengan tari, tidak perlu buru-buru memikirkan apakah ia akan menjadi penari profesional.
Amati prosesnya.
Dengarkan ceritanya setelah latihan.
Perhatikan ketika ia mulai berani.
Hargai ketika ia mencoba lagi setelah melakukan kesalahan.
Sebab, hal paling berharga dari sebuah kegiatan anak terkadang bukan apa yang terlihat di atas panggung.
Melainkan perubahan kecil yang terjadi sebelum ia sampai ke panggung tersebut.
Mungkin hari ini hanya satu gerakan.
Besok satu keberanian.
Lusa satu pengalaman baru.
Dari langkah-langkah kecil itulah anak terus bertumbuh. (acs)
Bagaimana dengan Pengalaman Ayah dan Ibu?
Ketika anak mengikuti kegiatan seni, perubahan apa yang paling terasa?
Apakah ia menjadi lebih berani, percaya diri, mudah berteman, atau justru menemukan minat baru?
Ceritakan pengalaman Ayah dan Ibu di kolom komentar.