Ada vibe seru banget dari Kukar Festival Budaya Nusantara (KFBN) 2025 di Tenggarong, apalagi pas Sanggar Gandes Pamantes dari Jawa Barat ikut meramaikan. Mereka bukan sekadar tampil, tapi langsung jadi highlight yang bikin penonton auto nengok.
Datang jauh-jauh dari Jawa Barat ke Kutai Kartanegara, mereka bawa energi khas Sunda yang fresh dan beda dari yang lain. Ini juga jadi momen pertama mereka tampil di Kutai, jadi bisa dibilang debut yang cukup mencuri perhatian.
Salah satu yang bikin penampilan mereka standout adalah pilihan tariannya. Mereka bawain Tari Sugriwa Subali yang penuh cerita dramatis, ditambah Tari Jaipongan Geboi yang lebih playful dan enerjik.
Perpaduan dua tarian ini bikin suasana makin hidup. Dari yang awalnya serius dan penuh makna, langsung beralih ke yang fun dan bikin pengen ikut goyang.Penampilan mereka juga jadi penutup di sesi street performance. Biasanya penutup itu tricky, tapi mereka justru berhasil bikin penonton tetap stay sampai akhir.
Area Simpang Odah Etam yang jadi lokasi tampil juga ikut kebawa hype. Banyak penonton yang rela berdiri lama cuma buat nonton sampai selesai.
Reaksi penonton? Jelas positif banget. Tepuk tangan nggak berhenti, dan banyak yang langsung angkat HP buat rekam momen—klasik tapi bukti kalau perform-nya worth it.
Yang menarik, Sanggar Gandes Pamantes ternyata udah punya pengalaman tampil di berbagai kota, bahkan sampai luar negeri kayak Malaysia. Jadi nggak heran kalau mereka kelihatan confident banget di panggung.
Dari sisi mereka sendiri, kesan terhadap Tenggarong juga cukup wholesome. Mereka bilang kotanya bersih, orang-orangnya ramah, dan vibes-nya nyaman banget.
Mereka juga cukup kagum sama kekayaan budaya Kutai yang menurut mereka unik karena campuran budaya kesultanan, pesisir, dan pedalaman.
Buat mereka, festival kayak KFBN ini bukan cuma soal tampil, tapi juga jadi ajang ketemu, tukar budaya, dan nambah relasi antar daerah. Jadi vibes-nya bukan kompetisi, tapi kolaborasi.
Overall, kehadiran Sanggar Gandes Pamantes di KFBN 2025 ini jadi bukti kalau budaya itu masih relevan banget—asal dibawain dengan energi yang relate sama generasi sekarang. sabi kannn?