Menu Close

Tari Tradisional dan Tari Kreasi, Apa Bedanya dan Mengapa Keduanya Penting untuk Anak?

Gandespamantes – Ketika orang tua mencari kegiatan seni untuk anak, istilah tari tradisional dan tari kreasi mungkin cukup sering muncul.

Keduanya sama-sama merupakan seni tari. Keduanya juga sama-sama membutuhkan latihan, teknik, irama, ekspresi, dan proses untuk menguasainya.

Namun, ada perbedaan yang membuat pengalaman belajar keduanya menjadi menarik.

Tari tradisional membawa anak lebih dekat dengan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Sementara tari kreasi memberikan ruang untuk mengembangkan gerakan dan gagasan menjadi bentuk karya yang lebih baru.

Lantas, apakah anak harus memilih salah satunya?

Tidak harus.

Justru keduanya dapat saling melengkapi.

Bagi Gandes Pamantes, tari tradisional dan tari kreasi merupakan bagian dari perjalanan seni yang dapat dikenalkan kepada anak sesuai dengan minat, usia, dan proses perkembangannya.

Mengenal Tari Tradisional

Tari tradisional merupakan bentuk tari yang tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan budaya tertentu.

Karena lahir dari tradisi masyarakat, tari tradisional biasanya memiliki karakter yang berkaitan erat dengan daerah asalnya.

Karakter tersebut dapat terlihat dari berbagai unsur, seperti:

  • gerakan;
  • musik pengiring;
  • busana;
  • tata rias;
  • pola penyajian;
  • cerita;
  • serta nilai budaya yang menyertainya.

Artinya, ketika anak belajar tari tradisional, ia sebenarnya sedang mempelajari lebih dari sekadar rangkaian gerakan.

Anak dapat mengenal dari mana sebuah tari berasal, bagaimana karakter gerakannya, musik yang mengiringinya, hingga cerita yang berada di balik pertunjukan.

Gerakan yang awalnya terlihat seperti “gerakan tari” bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal sebuah kebudayaan.

Apa Itu Tari Kreasi?

Berbeda dengan tari tradisional yang memiliki keterikatan kuat dengan tradisi tertentu, tari kreasi memberikan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan gagasan melalui gerak.

Sumber inspirasinya dapat berasal dari banyak hal.

Bisa dari budaya tradisional, kehidupan sehari-hari, lingkungan, cerita, musik, atau gagasan tertentu.

Karena itu, tari kreasi dapat menghadirkan bentuk gerak dan penyajian yang lebih beragam.

Tetapi jangan salah memahami istilah “kreasi”.

Tari kreasi bukan berarti penari bebas bergerak tanpa arah.

Di balik sebuah tari kreasi tetap ada proses yang serius.

Ada gagasan yang ingin disampaikan, pemilihan gerak, koreografi, musik, latihan, ekspresi, hingga proses menyatukan berbagai unsur tersebut menjadi sebuah karya.

Dengan kata lain, kreativitas tetap membutuhkan dasar dan proses.

Apa Perbedaan Tari Tradisional dan Tari Kreasi?

Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat dari karakter dan ruang pengembangannya.

Aspek Tari Tradisional Tari Kreasi
Dasar Berakar pada tradisi budaya tertentu Dikembangkan melalui gagasan dan kreativitas
Hubungan dengan budaya Sangat erat dengan budaya asalnya Dapat mengambil inspirasi dari budaya maupun sumber lain
Gerakan Memiliki karakter yang berkaitan dengan tradisi Lebih terbuka untuk pengembangan dan pengolahan
Musik Berkaitan dengan karakter tari dan tradisinya Dapat disesuaikan dengan konsep karya
Busana Umumnya memiliki karakter tradisional Dapat dikembangkan sesuai konsep
Pembelajaran Mengenal teknik sekaligus budaya Mengembangkan teknik, ekspresi, dan kreativitas
Ruang eksplorasi Berkaitan erat dengan karakter tradisi Relatif lebih luas

Namun, tabel tersebut jangan dipahami sebagai batas yang benar-benar kaku.

Dalam perkembangan seni tari, tradisi dan kreativitas justru sering bertemu.

Sebuah karya baru dapat lahir dari proses mengenal karya lama.

Dan sebuah tradisi dapat terus hidup karena ada generasi yang mempelajari, mengembangkan, dan memperkenalkannya kembali.

Tari Tradisional Tidak Harus Berhenti di Masa Lalu

Salah satu kesalahpahaman yang kadang muncul adalah menganggap tari tradisional sebagai sesuatu yang hanya berkaitan dengan masa lalu.

Padahal, tradisi dapat terus berkembang melalui cara generasi baru mempelajarinya.

Anak yang belajar tari tradisional hari ini tentu hidup dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Cara mereka belajar, berkomunikasi, menikmati musik, dan melihat pertunjukan juga berkembang.

Karena itu, memperkenalkan tradisi kepada anak tidak berarti membuat mereka kembali ke masa lalu.

Justru mereka sedang diberi kesempatan untuk mengenal dari mana sebuah kebudayaan berasal.

Setelah mengenal akarnya, mereka memiliki kesempatan untuk memahami bagaimana budaya tersebut dapat terus hidup.

Tari Kreasi Juga Bisa Berangkat dari Tradisi

Di sisi lain, tari kreasi juga tidak selalu berarti meninggalkan budaya tradisional.

Sebaliknya, tradisi sering kali menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya karya baru.

Gandes Pamantes memiliki pengalaman dalam mengembangkan karya tari yang mempertemukan unsur tradisi dan kreativitas.

Salah satu contohnya adalah Tari Lawang Rasa, karya tari kreasi jaipongan yang mengadopsi dan memadukan gerakan dasar dalam seni Sunda. Hal tersebut menunjukkan bagaimana unsur budaya tradisional dapat menjadi bagian dari proses penciptaan karya baru.

Di sinilah hubungan antara tari tradisional dan tari kreasi menjadi menarik.

Tradisi memberikan sumber inspirasi.

Kreativitas memberikan ruang untuk mengembangkannya.

Keduanya tidak harus berjalan sendiri-sendiri.

Mengapa Keduanya Menarik untuk Anak?

Bagi anak, belajar tari bukan sekadar menghafalkan gerakan.

Ada proses mengenal tubuh, mengikuti irama, memahami ruang, mengingat koreografi, bekerja bersama, dan mengekspresikan sesuatu melalui gerakan.

Tari tradisional memberikan pengalaman tambahan berupa pengenalan terhadap budaya.

Anak dapat mengenal karakter kesenian dari suatu daerah sekaligus memahami bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam.

Sementara tari kreasi dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk melihat bahwa gerakan juga dapat dikembangkan menjadi sebuah gagasan baru.

Dengan demikian, anak tidak hanya belajar “bagaimana menari”, tetapi perlahan juga belajar:

“Apa yang ingin saya sampaikan melalui tari?”

Apakah Anak Harus Memilih Salah Satunya?

Tidak.

Justru anak dapat mengenal keduanya secara bertahap.

Ada anak yang sejak awal tertarik pada tari tradisional.

Ada yang lebih menikmati eksplorasi tari kreasi.

Ada juga yang awalnya tidak tahu jenis tari apa yang disukai sampai akhirnya mencoba beberapa pengalaman berbeda.

Hal tersebut wajar.

Minat anak tidak selalu bisa diketahui hanya dari satu kali latihan.

Karena itu, orang tua tidak perlu terlalu cepat memberikan label.

Biarkan anak mencoba.

Amati apa yang membuatnya tertarik.

Perhatikan apakah ia menikmati proses latihan.

Dan lihat bagaimana ia berkembang dari waktu ke waktu.

Bagaimana Orang Tua Menentukan Kelas Tari?

Selain melihat jenis tari, orang tua juga sebaiknya memperhatikan lingkungan belajarnya.

Beberapa hal berikut dapat menjadi pertimbangan.

1. Sesuaikan dengan Usia Anak

Anak usia dini memiliki kebutuhan pembelajaran yang berbeda dengan anak usia sekolah atau remaja.

Metode latihan, durasi, dan cara pengajar memberikan instruksi perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

2. Perhatikan Minat Anak

Jika anak senang dengan cerita budaya, tari tradisional mungkin menjadi pengalaman yang menarik.

Jika anak senang mencoba gerakan dan bereksperimen, tari kreasi juga dapat menjadi ruang yang menyenangkan.

Namun keduanya tetap dapat dicoba.

3. Jangan Hanya Mengejar Kemampuan Tampil

Pertunjukan memang menjadi salah satu pengalaman menarik dalam belajar tari.

Tetapi proses sebelum tampil juga penting.

Anak belajar berlatih, mengingat koreografi, mengikuti arahan, bekerja bersama kelompok, dan menghadapi rasa gugup.

Semua itu merupakan bagian dari perjalanan belajar seni.

4. Cari Lingkungan yang Membuat Anak Nyaman Belajar

Anak tidak harus selalu mendapatkan latihan yang mudah.

Tantangan tetap diperlukan.

Tetapi anak juga perlu merasa aman untuk mencoba dan melakukan kesalahan.

Sebab dalam proses belajar seni, kesalahan bukan selalu sesuatu yang harus ditakuti.

Kadang justru dari kesalahan itulah anak belajar memperbaiki gerakannya.

Gandes Pamantes: Tradisi dan Kreasi dalam Satu Perjalanan

Bagi Gandes Pamantes, memperkenalkan seni tari kepada generasi muda tidak harus dilakukan dengan mempertentangkan tari tradisional dan tari kreasi.

Keduanya justru dapat menjadi bagian dari perjalanan belajar yang saling melengkapi.

Tari tradisional membantu anak mengenal akar budaya.

Tari kreasi memberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas.

Ketika keduanya dipertemukan, anak dapat belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang hanya disimpan dan dilihat dari kejauhan.

Budaya dapat dipelajari.

Budaya dapat dipraktikkan.

Budaya dapat dikembangkan.

Dan pada waktunya, budaya juga dapat diceritakan kembali dengan cara yang lebih dekat dengan generasi berikutnya.

Inilah yang membuat perjalanan belajar tari menjadi menarik.

Anak mungkin memulai dari satu gerakan sederhana.

Kemudian belajar mengikuti irama.

Mengenal sebuah tarian.

Memahami ceritanya.

Mencoba tampil.

Lalu suatu hari mungkin mulai menciptakan sesuatu dengan pemahamannya sendiri.

Proses tersebut tidak harus berlangsung dalam satu kelas atau satu jenis tari saja.

Tradisi Memberi Akar, Kreasi Memberi Ruang

Pada akhirnya, tidak perlu mencari jawaban mengenai mana yang lebih baik antara tari tradisional dan tari kreasi.

Pertanyaannya justru dapat diarahkan menjadi:

“Apa yang dapat dipelajari anak dari keduanya?”

Dari tari tradisional, anak dapat mengenal budaya dan akar kesenian.

Dari tari kreasi, anak dapat melihat bagaimana sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi karya.

Dan dari proses belajar keduanya, anak mendapatkan pengalaman untuk mengenal gerak, musik, ekspresi, kerja sama, disiplin latihan, sekaligus keberanian untuk mencoba.

Karena seni tidak selalu tentang menghasilkan sesuatu yang sempurna.

Kadang seni dimulai dari keberanian untuk mencoba satu gerakan.

Kemudian mencoba lagi.

Dan lagi.

Sampai akhirnya anak menyadari bahwa gerakan yang dulu terasa sulit ternyata bisa dikuasai.

Tradisi memberi akar.
Kreativitas memberi ruang.

Keduanya dapat berjalan bersama.

Dan bagi generasi muda, mungkin justru perpaduan keduanya yang membuat seni tari tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sampurasun! (acs)

WhatsApp chat