Ada anak yang sejak kecil suka menari setiap kali mendengar musik.
Ada remaja yang mulai tertarik tari karena melihat pertunjukan di sekolah.
Ada pula yang sudah dewasa, tetapi baru berani mengatakan, “Saya sebenarnya suka menari.”
Menariknya, tidak ada kata terlambat untuk menyukai tari.
Di Bogor, kecintaan terhadap seni tari tumbuh dalam banyak bentuk. Dari lingkungan sekolah, panggung pertunjukan, kegiatan budaya, hingga sanggar yang menjadi tempat orang belajar dan bertemu dengan mereka yang memiliki ketertarikan yang sama.
Salah satunya adalah Gandes Pamantes.
Namun, cerita tentang sanggar tari sebenarnya bukan hanya cerita tentang bagaimana seseorang belajar menggerakkan tangan atau kaki mengikuti irama.
Ada cerita tentang keberanian, pertemanan, budaya, kreativitas, dan proses menemukan sesuatu yang disukai.
Ketika Tari Menjadi Bahasa Anak-anak
Bagi anak kecil, menari sering kali tidak membutuhkan alasan yang rumit.
Mereka mendengar musik, lalu bergerak.
Tertawa ketika salah.
Mencoba lagi.
Kadang gerakannya belum beraturan, tetapi justru di situlah keseruannya.
Seiring bertambah usia, tari bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Anak mulai mengenal disiplin latihan, memahami musik, mengingat koreografi, belajar tampil, dan perlahan mengenal nilai budaya yang berada di balik sebuah gerakan.
Karena itu, belajar tari tidak harus dimulai dengan target menjadi penari.
Bisa dimulai dari rasa suka.
Dari Suka Menjadi Ruang untuk Berkembang
Ada masa ketika seseorang mulai mencari kegiatan yang benar-benar sesuai dengan dirinya.
Sekolah atau pekerjaan memiliki rutinitasnya sendiri. Media sosial menawarkan begitu banyak hal untuk dilihat. Tetapi di tengah semua itu, tetap ada kebutuhan untuk melakukan sesuatu secara langsung—bergerak, berkarya, bertemu orang lain, dan menghasilkan pengalaman.
Seni tari bisa menjadi salah satu ruang tersebut.
Di dalam latihan, seseorang tidak hanya belajar gerakan.
Ia belajar mengingat.
Belajar mendengarkan.
Belajar mengikuti ritme.
Belajar bekerja bersama.
Dan ketika tiba waktunya tampil, ia belajar menghadapi rasa gugup.
Hal-hal sederhana itu sering kali justru menjadi pengalaman yang terbawa ke kehidupan sehari-hari.
Gandes Pamantes dan Cerita Tari dari Bogor
Di Situgede, Bogor Barat, perjalanan seni tari tersebut salah satunya tumbuh melalui Gandes Pamantes.
Sanggar yang didirikan dan dipimpin Indi Febriyanti ini memiliki perhatian pada seni tari tradisional Sunda sekaligus pengembangan tari kreasi dan tari garapan. Perjalanannya juga mempertemukan proses belajar dengan berbagai kegiatan pertunjukan dan festival.
Yang menarik adalah bagaimana budaya tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan generasi sekarang.
Tari dapat menjadi cara untuk mengenal kembali cerita di sekitar kita.
Bogor memiliki banyak cerita budaya.
Ada lingkungan, tradisi, kesenian, tempat, dan kebiasaan masyarakat yang bisa menjadi sumber inspirasi.
Ketika semua itu diterjemahkan ke dalam gerak dan musik, budaya menjadi sesuatu yang bisa dilihat, dirasakan, dan dialami.
Tidak Harus Menunggu Pandai
Salah satu hal yang sering membuat seseorang mengurungkan niat belajar seni adalah perasaan bahwa dirinya belum cukup baik.
“Tidak bisa menari.”
“Tidak lentur.”
“Sudah telanjur besar.”
“Takut salah.”
Padahal, tidak ada penari yang langsung mahir pada latihan pertama.
Semua dimulai dari gerakan yang mungkin masih kaku, hitungan yang terlupa, atau koreografi yang harus diulang berkali-kali.
Justru proses itulah bagian menarik dari belajar.
Anak belajar mengenal tubuhnya.
Remaja belajar menemukan kepercayaan dirinya.
Orang dewasa menemukan kembali kesenangan yang mungkin lama ditinggalkan.
Tari akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling bagus.
Tetapi tentang siapa yang mau terus mencoba.
Dari Gerakan Sederhana hingga Cerita Budaya
Tari tradisional juga memiliki cara yang unik untuk memperkenalkan budaya kepada generasi berikutnya.
Bukan melalui hafalan semata, tetapi melalui pengalaman.
Salah satu contoh yang pernah dikembangkan Gandes Pamantes adalah Tari Rengkak Ayakan, yang mengangkat tradisi Ngubek Setu Gede di Bogor ke dalam karya tari.
Cerita lokal kemudian diterjemahkan menjadi gerakan.
Sesuatu yang mungkin sebelumnya hanya dikenal oleh masyarakat tertentu menjadi sebuah karya yang dapat disaksikan di panggung.
Di situlah seni menjadi menarik.
Sebuah tempat di Bogor dapat menjadi cerita.
Sebuah tradisi dapat menjadi gerakan.
Dan sebuah gerakan dapat membuat generasi berikutnya penasaran dengan budaya yang ada di sekitarnya.
Mungkin yang Dicari Bukan Sekadar Kelas Tari
Pada akhirnya, orang datang ke dunia seni dengan alasan yang berbeda-beda.
Anak kecil mungkin datang karena senang bergerak mengikuti musik.
Orang tua mungkin ingin mengenalkan budaya kepada anaknya.
Remaja mungkin ingin menemukan kegiatan yang disukai.
Sebagian lainnya ingin kembali menekuni hobi yang pernah ditinggalkan.
Semua alasan itu sah.
Karena ruang seni tidak selalu harus menghasilkan sesuatu yang besar.
Kadang cukup membuat seseorang merasa senang.
Kadang membuat anak lebih berani tampil.
Kadang mempertemukan dua orang yang kemudian menjadi teman.
Kadang membuat seseorang mengenal budaya daerahnya sendiri.
Dan mungkin, dari pengalaman-pengalaman kecil itulah kecintaan terhadap seni tumbuh.
Bogor dan Generasi yang Terus Bergerak
Budaya tidak akan hidup hanya karena sering dibicarakan.
Ia hidup ketika ada yang mau mempelajarinya.
Ada yang mengajarkannya.
Ada yang menampilkannya.
Dan ada generasi baru yang merasa bahwa budaya tersebut masih memiliki tempat dalam kehidupan mereka.
Karena itu, keberadaan ruang seperti sanggar tari tetap penting.
Bukan hanya untuk menghasilkan penari.
Tetapi untuk menyediakan tempat bagi siapa saja yang ingin belajar, mencoba, dan berkembang melalui seni.
Gandes Pamantes adalah salah satu bagian dari perjalanan tersebut di Bogor.
Dan mungkin, bagi seseorang yang hari ini sedang melihat anaknya menari di ruang tamu, seorang remaja yang sedang mengikuti gerakan dari layar ponsel, atau seseorang yang diam-diam masih menyimpan keinginan untuk belajar tari, semuanya memiliki titik awal yang sama:
rasa suka.
Tidak harus langsung pandai.
Tidak harus langsung tampil.
Tidak harus punya alasan besar.
Cukup mulai dari satu gerakan.
Lalu satu gerakan berikutnya.
Sebab terkadang, sebuah perjalanan panjang dalam seni memang dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:
“Aku suka menari.”. (acs)