Evaluasi Sanggar Tari Gandes Pamantes ke-XII

Ratusan siswa mulai dari anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) hingga mahasiswa, Minggu (14/01/2018), mengikuti kegiatan evaluasi tari jaipong Sanggar Gandes Pamantes ke XII di Giant, Taman Yasmin, Kota Bogor.

Evaluasi rutin yang diadakan sanggar itu, dijelaskan pimpinan Sanggar Gandes Pamantes Indi Febrianti, diikuti hampir seratusan siswa dari total 120 siswa sanggarnya.

“Yang mengikuti kegiatan evaluasi saat ini hampir seratusan siswa mulai dari usia TK sampai mahasiswa, mulai dari pemulai satu sampai tiga dan terampil satu sampai terampil tujuh,” terang Indi.

Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman yang membuka kegiatan tersebut menyampaikan apresiasinya kepada Sanggar Gandes Pamantes sebagai salah satu sanggar yang cukup berkembang di Kota Bogor.

“Evaluasi ini bukan semata-mata untuk mencari yang terbaik, tetapi nilai luhur dari itu semua adalah menyadarkan anak-anak dan remaja bahwa ada nilai-nilai kesenian dan kebudayaan yang tidak kalah oleh kebudayaan-kebudayaan lain. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi kegiatan ini,” tuturnya. (Donni/Foto:Ismet-SZ)

Artikel ini telah tayang di website resmi Pemerintah Kota Bogor kotabogor.go.id dengan judul Sanggar Gandes Pamantes Evaluasi Tari Jaipong, https://kotabogor.go.id/index.php/show_post/detail/8852/

Festival Tunggul Kawung (Ethnic Drum Festival)

Festival Tunggul Kawung 2017

Untuk pertama kalinya Festival Tunggul Kawung akan digelar di Kota Bogor.

Festival yang diinisiasi Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) ini dikemas dalam bentuk kompetisi alat musik tabuh atau membranphone yang sumber bunyinya berasal dari getaran membran, kulit atau selaput.

Ketua Umum DK3B, Usmar Hariman menyebutkan, festival ini menjadi menarik mengingat jenis alat musik tabuh cukup banyak, sehingga mampu memunculkan nilai kreativitas dan mengangkat kembali sebutan Tunggul Kawung.

“Sebagai simbol yang menjadi latar pembentukan nama Bogor, pohon aren (kawung) mengandung kesejatian sebagai penopang kehidupan masyarakat, meskipun sudah menjadi tunggul. Karenanya, Tunggul Kawung sebagai nama dan sebutan lain dari Bogor, perlu dikuatkan,” ujar Usmar di Gedung Kemuning Gading Bogor. Selain itu, festival ini untuk mempromosikan Kota Bogor secara nasional dan menjadi event penutup akhir tahun yang mengandung bentuk edukatif sekaligus rekreatif.

Festival Tunggul Kawung 2017

Dalam Festival tersebut, Sanggar Gandes Pamantes menjadi Juara 1 Penyaji Terbaik Festival Tunggul Kawung 2017.

Penyaji Terbaik ke-1 Festival Kemasan Seni Pertunjukan Tari 2017

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor kembali menyuguhkan Festival Kemasan Seni Pertunjukan yang menampilkan berbagai seni. Diantaranya seni tari dan musik tradisional dari 12 sanggar Kota dan Kabupaten Bogor, serta sanggar lainnya se-Jawa Barat di Gedung Kemuning Gading, Kota Bogor, Rabu (29/11/2017).

Kasi Pengembangan Seni Film dan Kelembagaan Disparbud Kota Bogor Uci Sanusi mengatakan, festival ini sebagai upaya pembinaan dan pengelolaan keragaman budaya yang diselenggarakan setiap tahun untuk menghasilkan inovasi baru dari sanggar-sanggar yang ikut serta. “Di festival ini masing-masing sanggar menampilkan kreasi seni. Ada seni musik gamelan dan yang terbanyak seni tarian. Dari sini juga peserta bisa saling bertukar ilmu antar sanggar,” ujarnya.

Menurutnya, ajang festival ini menjadi wadah bagi para sanggar untuk mengukur sejauh mana sanggar tersebut berinovatif dalam seni yang mereka mainkan. Selain itu, dengan pertunjukan ini setiap sanggar dapat menilai kemampuan dengan adanya kompetitor. “Kompetitor disini bukan berarti konotasi negatif, tapi yang bisa memacu semangat untuk terus berkarya lebih dengan adanya festival ini,” imbuh Uci sapaan akrabnya.

Tak hanya itu, Dia menjelaskan seringnya setelah diadakannya festival ini, akan selalu ada inovasi baru yang dihasilkan sanggar-sanggar khususnya sanggar yang ada di Bogor. Baik inovasi dari seni tari maupun seni musik. Salah satu seni tarian yang lahir dari inovasi seusai festival yakni tari langir badong, tari rengkak ayakan dan masih banyak lainnya. “Tahun ini pesertanya tidak hanya dari Bogor saja tetapi juga ada dari luar Bogor. Sebut saja Cimahi, Bandung, Sukabumi, Cianjur hingga Mataram. Keberagaman peserta ini tentunya akan semakin memperluas ilmu yang didapat,” terangnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, ini menjadi tahun ketiga digelarnya Festival Kemasan Seni Pertunjukan yang targetnya bukan sekedar menikmati suguhan seni melainkan juga untuk adanya regenerasi budayawan di “zaman old ke zaman now”. “Kami ingin generasi muda jadi bangga dengan kesenian dan kebudayaan sundanya,” katanya.

Ia menambahkan, lewat festival ini juga dapat dilihat keberagaman budaya yang tampil. Tidak hanya budaya sunda namun juga dari budaya lainnya diantaranya dari Kota Mataram turut bisa disuguhkan disini. Selain itu, pertunjukan menunjukan Kota Bogor memiliki potensi beragam, berwarna-warni dan terbuka dengan berbagai seni.“Sanggar akan semakin hidup, selalu bersemangat dalam berkreasi, semakin banyak festival sebab ia ingin dari tahun ke tahun acaranya semakin meriah,” cetusnya.

Tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah meninggikan Bahasa Indonesia di negeri sendiri. “Di Kota Bogor memang sedang gencar memfokuskan penggunaan Bahasa Indonesia dengan pergantian nama yang lebih Indonesia,” pungkasnya.

Festival ini juga dimeriahkan dengan adanya penyerahan penghargaan pemartabatan bahasa untuk Wali Kota Bogor Bima Arya dan pemberian penghargaan anugerah bahasa untuk beberapa hotel dan mall di Bogor.
(fla/indra-SZ)

Sanggar Gandes Pamantes menjadi Penyaji Terbaik ke-1 di festival se-Jawa Barat tersebut.

Artikel ini telah tayang di dpupr.kotabogor.go.id dengan judul 12 Sanggar Tampil Memukau di Festival Kemasan Seni Pertunjukan, http://dpupr.kotabogor.go.id/index.php/show_post/detail/8540/12-sanggar-tampil-memukau-di-festival-kemasan-seni-pertunjukan

Tradisi Ngubek Setu

Heibogor.com – Jelang bulan suci Ramadhan, ribuan masyarakat dari berbagai penjuru begitu antusias untuk berpartisipasi dalam kegiatan Ngubek Setu Gede yang berlangsung di Kelurahan Situ Gede, Minggu 21 May 2017

Tak mau ketinggalan, Wali Kota Bogor Bima Arya pun turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Situ Gede, Eman Sulaiman mengatakan, kegiatan yang tersebut merupakan rangkaian Hari Jadi Bogor (HJB) ke-535 pada tahun 2017. Ia menuturkan, acara Ngubek Setu Gede merupakan kegiatan inti dari perhelatan HJB ke-535 nanti.

“Ngubek Setu ini adalah acara tradisi yang diwarisi turun temurun dari nenek moyang,” ujarnya kepada heibogor.com yang juga menjabat sebagai ketua pelaksana dalam kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan, saat acara berlangsung, masyarakat berbondong-bondong turun ke Setu untuk memanen ikan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan atau dalam istilah lainnya disebut sebagai Mapag Munggah.

“Ikan ini dipanen untuk buka saur pertama dulunya. Sekarang, tradisi ini kita pertahankan dan dilestarikan. Ini sudah berjalan 7 kali. Nah, mapag munggah atau Ngubek Setu merupakan salah satu kegiatan yang dipertahankan oleh generasi sekarang agar danau Setu Gede yang sudah ditentukan pemerintah sebagai kawasan wisata di Kota Bogor dapat diperhatikan,” jelasnya.

Tak hanya untuk menyambut bulan suci Ramadhan, Eman mengatakan, kegiatan tersebut juga merupakan salah satu ajang promosi danau Setu Gede agar dikenal oleh masyarakat luas sebagai warisan wisata di Kota Bogor.

Selain dihadiri oleh masyarakat Kelurahan Situ Gede, kata Eman, bahkan pengunjung dari Jabodetabek pun ikut meramaikan kegiatan tersebut.

“Nah, peserta dan pengunjung setiap tahun diprediksi hampir 15.000 orang. Harapan saya dengan adanya agenda ini, wisata Setu Gede ke depan bisa menjadi potensi warga Setu Gede Kota Bogor, bahkan sebagai tujuan wisata tingkat nasional,” ungkapnya.

Eman menambahkan, kegiatan Ngubek Setu Gede sebenarnya tidak untuk dilombakan. Masyarakat yang hadir dipersilakan untuk meramaikan tradisi tersebut.

Lebih lanjut ia menuturkan, kegiatan tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat. Pasalnya, ikan yang terdapat di Setu Gede merupakan hasil swadaya dari warga Kelurahan Situ Gede.

“Khusus peserta di luar Situ Gede, kita pungut tiket yang dialokasikan untuk kebersihan dan penambahan ikan selanjutnya. Ngubek Setu ini kita rangkai dengan acara-acara yang lain, seperti kemarin hari Sabtu kita mengadakan karnaval. Jadi pawai masyarakat Kelurahan Situ Gede yang menampilkan potensi seni budaya yang ada. Ini dimotori sangar tari tradisional,” pungkasnya.

Ngubek Setu Gede, Tradisi Warga Bogor Sambut Bulan Ramadhan

Rengkak Ayakan Meramaikan Helaran Setu Gede

Tarian kolosal Rengkak Ayakan persembahan mojang–mojang Situ Gede meramaikan Helaran Seni Budaya yang digelar di Kelurahan Situ Gede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor Sabtu (20/5/2017).

Helaran atau karnaval seni dan budaya warga Situ Gede ini dilepas Camat Bogor Pupung W. Purnama didampingi Lurah Situ Gede Achmad Dimyati dan Ketua LPM Situ Gede Eman Sulaeman.

Iring – iringan karnaval yang menempuh jarak 1.5 km diawali dengan tarian Rengkak Ayakan. Puluhan mojang Situ Gede yang tergabung dalam Sanggar Tari Gandes Pamantes berlengak lenggok di sepanjang jalan Situ Gede. ” Tari Rengkak Ayakan adalah sebuah tarian yang sengaja kita ciptakan. Tarian ini menggambarkan suka cita dan keceriaan warga Situ Gede dalam kegiatan ngubek setu untuk nenyambut datangnya bulan suci Ramadhan, ” kata pimpinan Sanggar Seni Gandes Pamantes Indi.

Sebetulnya tarian rengkak ayakan sudah berkali kali dipentaskan, terakhir dipentaskan dalam Helaran Cap Go Meh, ” papar Indi.

Karnaval diikuti sekitar 200 peserta. Beragam potensi seni warga Situ Gede ditampilkan. Selain tari rengkak ayakan juga ada iring-iringan lengser, kelompok ibu – ibu berkebaya, dan rombingan anak anak SD dan PAUD yang mengenakan baju kampret (baju ciri khas sunda)

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor Shahlan Rasyidi yang menyambut peserta Helaran menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada warga Situ Gede yang telah menggelar Helaran Seni dan Budaya.

” Ternyata banyak potensi seni dan budaya ada wilayah Kelurahan yang perlu terus dilestarikan dan dikembangkan ” kata Shahlan

Kegiatan semacam ini, kata Shahlan diharapkan bisa diikuti oleh Kelurahan – Kelurahan lainnya yang ada di Kota Bogor. *(iso)

http://bogornews.com/berita-tari-kolosal-rengkak-ayakan-ramaikan-karnaval-budaya-situ-gede.html

Evaluasi Sanggar Tari Gandes Pamantes ke-XI

KOTA BOGOR-Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman mengapresiasi kegiatan Evaluasi Sanggar Tari Gandes Pamantes ke-XI yang diikuti 69 peserta anak didik dari jumlah 169 peserta di halaman Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Minggu (02/04/2017).

Pagelaran Evaluasi Sanggar Tari Gandes Pamantes ini dibuka Wakil Usmar Hariman didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Shahlan Rasyidi dan Ketua Sanggar Indi Febriyanti juga dihadiri para orang tua siswa Sanggar Gandes Pamantes.

Usmar mengatakan, Sanggar Tari Gandes Pamantes dalam khasanah tradisi di Kelurahan Situ Gede ini sudah berkembang dengan anak-didik hingga dilakukan evaluasi agar bisa naik tingkat.

“Kami melihat siswa tingkat pemula sampai tingkat mahir sudah berkembang, sebuah sanggar berhasil dalam mendidik siswanya hingga tampil di tingkat daerahnya sampai ke tingkat yang lebih tinggi lagi,” katanya.

Keberhasilan sebuah sanggar tari kata Usmar, harus didukung oleh lapisan masyarakat terutama dorongan para orangtua siswa itu sendiri agar membuahkan prestasi dalam sebuah karya seni budaya sunda di daerah, terutama tarian khas Jawa Barat dengan Jaipongnya.

Senada diungkapkan, Kepala Disparbud Kota Bogor, Shahlan Rasyidi, kemampuan siswa dalam mempelajari Seni tari jaipong yang diajarkan oleh pengajarnya nantinya akan dinilai oleh tim juri.

”Siswa berhasil dalam sebuah tarian dinilai tim juri yang akan menentukan, apabila belum berhasil maka siswa harus lebih giat lagi belajar di sanggar ini,” tutur Shahlan.

Lanjut Shahlan, tentunya bagi siswa yang memperoleh hasil hingga naik tingkat atau ke jenjang berikutnya, maka penampilan tarian jaipongnya sudah berhasil. (Lani) SZ

Artikel ini telah tayang di Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan judul “Sanggar Gandes Pamantes Gelar Evaluasi, http://www.jabarprov.go.id/index.php/news/22255/2017/04/03/Sanggar-Tari-Gandes-Pamantes-Gelar-Evaluasi

Evaluasi Seni Tari Jaipong

Sebanyak 79 siswa, di Sanggar Tari Tradisional Jaipong, Gandes Pamantes, di Kelurahan Setu Gede, Kecamatan Bogor Barat.  Minggu, (02/4/2017) mengikuti ajang Evaluasi Seni Tari Jaipong,  Gandes Pamantes ke-XI tahun 2017.

Acara Evaluasi seni tari Jaipong yang dilaksanakan di lokasi danau Setu Gede, Kecamatan Bogor Barat ini secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Kebudyaan (Disparbud) Kota Bogor, Shahlan Rasyidi, disaksikan ratusan warga Setu Gede yang hadir menyaksikan acara tersebut.

Ketua Sanggar Gandes Pamantes, Indi Febrianti, mengatakan evaluasi seni tari Jaipong Gandes Pamentes ini merupakan ajang rutin 6 bulan sekali yang digelar sanggarnya untuk tujuan evaluasi bagi para siswa dalam menguasai seni tari tradisional khususnya tari Jaipong yang selama ini diajarkan pihak sanggar Gandes Pamantes.

“Program evaluasi ini merupakan salah satu upaya untuk mengetahui sampai sejauh mana kemampuan murid-murid kami dalam menangkap pelajaran dan pelatihan yang telah diberikan selama enam bulan terakhir,” kata Indi.

Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Kebudyaan, Kota Bogor, Shahlan Rasyidi pada kesempatan tersebut juga menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya kepada masyarakat Setu Gede, khususnya pihak Sanggar Gandes Pamantes dalam upaya memelihara dan mengembangkan seni budaya tradisional seni tri Jaipong sebagai salah seni dan budaya kearifan lokal warga Jawa Barat khuusnya yang ada di Kota Bogor.

“Kami dari Pemda Kota Bogor tentu merasa sangat bangga dengan semangat dan prestasi yang dicapai sanggar ini dalam upaya melestarikan seni budaya tari Jaipong di wilayah ini,” ujarnya.

Menurut Shahlan, pada dasarnya ajang evaluasi ini bukan semata-mata untuk mencari yang terbaik, tetapi nilai luhur dari itu semua adalah menyadarkan anak-anak dan remaja bahwa ada nilai-nilai kesenian dan kebudayaan yang tidak kalah oleh kebudayaan-kebudayaan modern dari luar yang belum tentu sesui dan cocok dengan budaya masyarakat Bogor itu sendiri. “Kami bersama dinas terkait tentu akan terus mendukung dan mendorong tumbuh kembangnya sanggar-sanggar seni yang ada di Bogor ini,” kata Shahlan.

Untuk itu peran aktiv dari peserta sanggar, para orang tua, guru dan seluruh komponen yang terlibat dalam tumbuh kembangnya seni budaya Sunda yang ada di Bogor diharapkan akan mampu mendorong prestasi-prestasi membanggakan bagi seni Budaya Kota Bogor baik ditingkatkan local maupun internasional. (arb)

 

http://rri.co.id/jakarta/post/berita/378134/metropolitan/evaluasi_sanggar_gandes_pamantes.html