Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia

ilustrasi Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia gandes pamantes

Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia

Gandespamantes.org- Perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi belakangan ini tentu saja membuat keresahan. Terkadang musim hujan yang terlampau panjang hingga menyebabkan banjir ataupun kemarau yang tidak berkesudahan sehingga pengairan kering. Namun, Tahukah kamu bagaimana dulu nenek moyang kita mengatasi musim kemarau?

Nah dari dulu, nenek moyang kita ternyata sudah memiliki cara untuk meminta hujan. Berbagai daerah di Indonesia memiliki ritual uniknya tersendiri guna memanggil hujan, salah satunya melalui tarian. Lalu tarian yang bagaimana untuk memanggil hujan? Penasaran?! Yuk simak bareng info unik ini bareng Gandes.

Tari Sintren

tari sintren Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia

Tari Sintren adalah tarian tradisional masyarakat Jawa tepatnya di daerah Cirebon Jawa Barat.

Tari Sintren adalah tarian tradisional masyarakat Jawa tepatnya di daerah Cirebon Jawa Barat. Tari ini juga disebut dengan lais yaitu bentuk tari-tarian dengan aroma mistis nan magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dan diiringi gending 6 orang. Gadis tersebut dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang berselebung kain. Pawang atau dalang kemudian berjalan memutari kurungan ayam itu sembari merapalkan mantra memanggil ruh Dewi Lanjar.

Jika pemanggilan ruh Dewi Lanjar berhasil, maka ketika kurungan dibuka, sang gadis tersebut sudah terlepas dari ikatan dan berdandan cantik, lalu menari diiringi gending.

Tari Gundala – Gundala Karo

Tari Gundala – gundala karo merupakan tarian yang berasal dari Kabupaten Karo, terletak di kawasan Bukit Barisan, Sumatera Utara.

Tari Gundala – gundala karo merupakan tarian yang berasal dari Kabupaten Karo, terletak di kawasan Bukit Barisan, Sumatera Utara. Tarian Gundala – Gundala Karo memiliki tujuan untuk memanggil hujan atau dalam bahasa batak di sebut Ndilo Wari Udan. Para penari Gundala – Gundala menggunakan kostum dengan pakaian seperti jubah dan topeng yang terbuat dari kayu.

Alkisah, zaman dahulu terjadi kesalahpahaman antara putri seorang raja dan seekor burung Gurda – Gurdi. Awalnya mereka bersahabat, namun burung Gurda – Gurdi memiliki pantangan yaitu apabila ada bagian tubuhnya terpegang oleh manusia ia akan menjadi berang dan marah.

Tanpa sengaja putri memegang paruh burung Gurda – Gurdi ketika sedang bercanda. Burung Gurda – Gurdi pun berang, lalu untuk kedua kalinya suami sang putri juga memegang bagian tubuh burung Gurda – Gurdi untuk menenangkan.  Akhirnya berakhir pertempuran antara pangeran dan burung Gurda-gurdi. Hingga berakhir dengan meninggalnya burung Gurda-gurdi.

Setelah meninggal para manusia baru menyadari bahwa hal tersebut hanyalah karena kesalahpahaman. Pada hari meninggalnya burung Gurda – Gurdi hari seketika mendung dan hujan turun dengan derasnya.

Tarian Suling Dewa

Tarian Suling Dewa Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia

Suling dewa merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tarian Suling dewa merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tarian ini hanya digelar ketika musim kemarau melanda. Tujuannya tentu saja untuk memohon turunnya hujan. Kesenian ini lahir ketika wilayah Bayan dilanda musim kemarau yang berkepanjangan.

Sebelum tarian berlangsung, masyarakat Bayan menentukan hari, waktu, dan tempat yang dinilai baik untuk melaksanakan ritual tersebut. Selain itu, masyarakat Bayan juga menyiapkan sesaji berupa kembang, makanan dan kapur sirih. Kapur sirih ini menjadi komponen yang paling penting dan dipercaya dapat mendatangkan hujan.

Keunikan lain yaitu dalam suling yang digunakan, ada sebuah pemahaman filosofis yang begitu mendasar dan mulia. Alat musik seruling ini menggambarkan wujud manusia, apabila seruling ini tidak diberikan hembusan nafas, maka tidak akan menghasilkan nada-nada indah. Begitu juga dengan manusia, bila raga tanpa atma atau roh, tentu tidak akan ada kehidupan.

Tari Sabet

Tari Sabet Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia

Tradisi tari sabet merupakan budaya masyarakat yang berasal dari Banjarnegara, Desa Karangjati.

Tradisi tari sabet merupakan budaya masyarakat yang berasal dari Banjarnegara, Desa Karangjati. Tari sabet ini salah satu bagian dari ritual Ujungan. Ujungan adalah pertarungan rotan antara dua orang yang diselingi dengan menari dan hanya diperbolehkan memukul kaki.

Melalui Tari Sabet, para warga untuk meminta hujan apabila kemarau panjang. Ritual ini hampir mirip dengan tradisi Tiban dari Blitar, Jawa Timur.

Menarik ya! Sepertinya memang ritual di Indonesia selalu dikaitkan dengan pertunjukan seni. Tidak hanya dalam bentuk lagu namun juga bentuk tarian. Meskipun saat ini perkembangan zaman sudah sangat maju, semoga keunikan ini tetap dapat lestari sampai kapan pun ya. Kalau di daerahmu tarian memanggil hujan itu seperti apa guys?


PHOTO CREDIT : Ilustrasi Tarian Memanggil Hujan, Sebuah Keunikan Budaya Indonesia. PHOTO IST

Sumber : info budaya

Baca Juga : Tari Lenggang Nyai, Representasi Semangat Kebebasan Wanita Betawi


Sanggar Gandes Pamantes Raih Penghargaan Naskah Terbaik

Sanggar Gandes Pamantes Raih Penghargaan Naskah Terbaik

Category : Ada Apa?

Gandespamantes.org – Sanggar Gandes Pamantes yang membawakan tari Topeng Gengges berhasil raih penghargaan untuk kategori naskah terbaik dalam Festival Kemasan Seni Pertunjukan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor di Gedung Kemuning Gading, Komplek Balai Kota, Kamis (28/11/2019).

Tari Topeng Gengges ini merupakan sebuah tari kontemporer yang disesuaikan dengan kehidupan jaman sekarang. Dimana didalamnya menggambarkan ragam warna warni sifat dari kehidupan remaja yang sedang berkelompok.

Aspek sifat remaja dalam Tari Topeng Gengges ini sangatlah bervariasi, termasuk Labil, genit, riweh serta banyak gaya dalam mengekspersikan gestur maupun mimik muka yang lucu dan terkadang justru mengganggu sekitar. Keadaan seperti ini oleh anak-anak millenial zaman sekarang yang kerap disebut sebagai Gengges.

Seperti diketahui, tari ini memiliki keragaman gaya tarian, dan tentunya termaksud refleksi warna warni dari kehidupan remaja dengan kekhasan tersendiri.

Para penari di dalam tari Topeng Gengges ini tampil dengan rambut tersanggul dan membawa kain yang berwarna, seperti merah, coklat, merah muda, hijau dan ungu. Tapi semuanya masih mengacu pada busana tradisional yang kental, seperti kostum kebaya kuning yang dikenakan masing-masing penari namun tetap memberikan kesan dinamis, dengan riasan natural.

Disamping itu, properti yang digunakan oleh ketujuh penari Topeng Gengges ini berupa topeng yang mengekspresikan dengan beragam mimik yang sarat banyol.

Terkait Iringan musik yang mengiringi Tari Topeng Gengges, sarat akan unsur musik tradisional seperti Kendhang, Bonang, Sarong, yang kesemuanya menghadirkan ambiance akan perpaduan musik tradisional yang dapat pula dinikmati para millenial.


PHOTO CREDIT :  Tim Sanggar tari Gandes Pamantes usai membawakan tarian Topeng Gengges di Festival Kemasan Seni pertunjukan Bogor 2019. FILE/DOK. PHOTO IST

Artikel ini telah tayang di ACS BLOG.

Baca Juga : Sanggar Gandes Pamantes bawakan Tari Bapang di Turnamen Golf POLINEMA CUP V


Festival Kemasan Seni Pertunjukan 2019 - Gandes Pamantes

Kota Bogor kembali menyuguhkan Festival Kemasan Seni Pertunjukan 2019

Gandespamantes.org- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor kembali menyuguhkan Festival Kemasan Seni Pertunjukan guna memberi ruang pada para pelaku seni dan mendorong mereka menggali serta menciptakan karya-karya seni baru yang otentik, di gedung Kemuning Gading, Rabu (28/11/2019) malam.

Kepala Disparbud Kota Bogor, Shahlan Rasyidi mengatakan bahwa tujuan utama festival ini antara lain untuk memberikan ruang apresiasi bagi para pelaku seni di Kota Hujan yang rutin setiap tahun diselenggarakan.

“Yang dimaksud kemasan disini adalah inovasi. sehingga para pelaku seni harus mampu menciptakan inovasi-inovasi baru dalam seni yang ditampilkannya, tidak boleh mencontek atau menyadur dari karya orang lain, harus murni karya sendiri,” katanya.

Shahlan juga menuturkan bahwa dirinya sangat puas dengan kreativitas dan inovasi yang telah ditampilkan para peserta tahun ini. Tidak saja menarik secara visual, namun sarat nilai seni dan kemasannya.

“Sanggar-sanggar sangat begitu kreatif dan inovatif dalam memberikan suguhannya di acara Festival Kemasan Seni Pertunjukan kali ini. Semuanya tampil sangat memukau dan menyulitkan dewan juri dalam memberikan penilaian, karena secara poin pun tidak terlalu jauh,” tuturnya.

Dari sembilan sanggar tari yang mengikuti Festival Kemasan Seni Pertunjukan tahun ini, Sanggar Bagaskara berhasil tampil menjadi penyaji terbaik dalam Festival Kemasan Seni, Sementara Sanggar Gapura Emas dari Kabupaten Sukabumi berhasil mendapatkan penghargaan sebagai koreografer terbaik.

Sedangkan penghargaan musik terbaik diraih Sanggar Dewi Ulum, penghargaan artistik terbaik diberikan kepada Sanggar Dewi Sri, dan Sanggar Gandes Pamantes berhasil meraih penghargaan untuk naskah terbaik.

Perlu diketahui, Selain dihadiri langsung Kepala Disparbud Kota Bogor, Festival Kemasan Seni Pertunjukan juga turut disaksikan Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) Usmar Hariman dan Kasie Pengembangan Seni Perfilman dan Kelembagaan pada Disparbud Kota Bogor Sanusi serta ratusan penonton dan masing-masing pendukung sanggar.

“Melalui Festival Kemasan Seni Pertunjukan diharapkan lahir karya-karya baru yang akan menambah khasanah kekayaan seni budaya di Kota Bogor khususnya dan Jawa Barat pada umumnya,” tandas Shahlan.


PHOTO CREDIT :  Penari Sanggar tari Gandes Pamantes saat menarikan Topeng Gengges di Festival Kemasan Seni pertunjukan Bogor 2019. FILE/DOK. PHOTO IST

Berita Ini telah tayang di telegraf.co.id.

Baca Juga : Pesan kearifan lokal lewat seni tari sunda


Pesan Sang Maestro Irawati Durban untuk Sanggar Gandes Pamantes

Pesan Sang Maestro Irawati Durban untuk Sanggar Gandes Pamantes.

Category : Ada Apa?

Irawati Durban pernah berkesempatan untuk melanglang buana. Banyak misi kesenian yang diikutinya, antara lain ke Chekoslovakia, Hongaria, Polandia, Rusia, Perancis, USA (selama 1 tahun dalam rangka New York World Fair di New York, tahun 1963-1964), Korea, Jepang, dan beberapa negara lainnya.

Di Tanah Air, Ira kerap menjadi penari istana dalam acara menyambut tamu negara. Paling sering di masa Presiden Sukarno dan Suharto, lalu Megawati Sukarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono. Selain sebagai penari, beliau juga pengajar tari. Ketika belajar tari pada Cece Somantri, Ira merangkap sebagai asistennya pada perkumpulan Tari “Rinenggasari” dan kemudian menjadi pelatih Tari Kreasi baru di “Viatikara” Bandung dan pernah mengajar Tari Sunda di Centre for World Musik di Berkeley, USA (1974).

Terima kasih untuk wejangannya, semoga kami para penari di sanggar tari gandes pamantes dapat selalu menjaga tradisi dan budaya khususnya melalui seni tari.

Semoga setiap anak Indonesia dapat selalu mencintai serta bangga dengan budaya dan tradisi bangsa 👍

SUBSCRIBE (UPDATE VIDEO TERBARU): https://www.youtube.com/channel/UC8lHGNJMZmlHyU1SVotNiZQ

==================================

Follow Sanggar Tari Gandes Pamantes di:

INSTAGRAM: @sanggar_gandespamantes | https://www.instagram.com/sanggar_gandespamantes/
FACEBOOK: Gandes Pamantes | https://www.facebook.com/gandes.pamantes
TWITTER:@gandespamantes | https://twitter.com/gandespamantes
WEBSITE: www.gandespamantes.org
📱 0812 89 777 064

Hanupis!🙏


× How can we help you?
WhatsApp chat