Ada sesuatu yang selalu berubah ketika seorang anak naik ke atas panggung.
Beberapa menit sebelumnya, mereka mungkin masih sibuk membenahi kostum, memastikan gerakan, atau mencari tatapan orang tua di antara penonton.
Lalu musik dimulai.
Mereka menari.
Begitulah yang kami rasakan saat mengikuti Gebyar Latika di Botani Square Bogor, Minggu, 30 Agustus 2026, dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketika nama Sanggar Tari Gandes Pamantes disebut sebagai Juara 1, tentu kami bangga.
Tetapi bagi kami, piala bukanlah cerita utamanya.
Ada proses panjang, keberanian, dan cinta terhadap budaya di balik beberapa menit di atas panggung.
Di Balik Juara 1 Ada Banyak Latihan
Penonton melihat kostum, gerakan, ekspresi dan pertunjukan.
Yang tidak terlihat adalah latihan yang diulang berkali-kali.
Ada gerakan yang belum kompak, rasa lelah, anak yang masih belajar percaya diri, pelatih yang terus meminta mereka mengulang, serta orang tua yang meluangkan waktu untuk mengantar.
Karena itu, Juara 1 Gebyar Latika bagi kami adalah penghargaan terhadap proses.
Sebab panggung bukan hanya tentang siapa yang menang.
Panggung adalah tempat anak-anak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh.
Ketika Tari Sunda Hadir di Ruang Modern
Ada hal yang membuat Gebyar Latika terasa istimewa.

Seni budaya hadir di Botani Square, ruang yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Acara ini juga dihadiri langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan sebagai bagian dari pengembangan kesenian dan budaya di Kota Bogor.
Bagi kami, kehadiran beliau menjadi pesan bahwa seni tradisi bukan sesuatu yang berada di pinggir kehidupan kota.
Ia layak mendapatkan ruang.
Ia layak diapresiasi.
Dan ia layak diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Di tengah pusat perbelanjaan, anak-anak tampil dengan busana tradisional, musik pengiring dan gerak tari yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Budaya tidak harus selalu menunggu gedung kesenian. Budaya bisa hadir di mana masyarakat berada.
Ketika Latika Memberikan Ruang
Di sinilah kami mengapresiasi Latika Beauty Care.
Gebyar Latika tidak hanya menghadirkan kegiatan yang berkaitan dengan kecantikan dan kesehatan kulit, tetapi juga membuka ruang bagi seni budaya melalui pentas dan keterlibatan sejumlah sanggar serta komunitas seni.

Bagi kami, ada benang merah yang menarik.
Kecantikan berbicara tentang bagaimana seseorang merasa nyaman dengan dirinya.
Sementara seni memberi keberanian untuk mengekspresikan diri.
Keduanya bertemu pada satu hal:
kepercayaan diri.
Di Gebyar Latika, anak-anak kami mendapatkan ruang untuk menunjukkan kepercayaan diri itu melalui seni dan budaya yang mereka cintai.
Dan bagi sebuah sanggar, ruang seperti ini sangat berarti.
Karena kami tidak hanya membutuhkan tempat untuk berlatih.
Kami membutuhkan panggung untuk memperkenalkan apa yang kami perjuangkan.
Terima kasih, Latika, karena telah memberikan panggung itu.
Piala Boleh Dibawa Pulang, Perjalanan Harus Terus Berjalan
Setelah acara selesai, piala akan diletakkan di tempatnya.
Foto-foto kemenangan tersimpan di galeri.
Anak-anak kembali ke sekolah.
Dan latihan kembali dimulai.
Namun semangatnya tidak boleh berhenti.
Kami tidak ingin anak-anak menari hanya demi piala.
Kami ingin mereka tetap mencintai seni, berani tampil, memahami proses, dan mengenal budaya yang mereka bawa.
Sebab kemenangan terbesar bukan ketika nama Gandes Pamantes disebut sebagai juara.
Kemenangan terbesar adalah ketika anak yang dulu malu tampil akhirnya berani naik panggung.
Ketika mereka mulai bertanya tentang budaya sendiri.
Dan ketika suatu hari mereka berkata:
“Ternyata budaya kita keren juga.”
Mungkin saat itu mereka belum memahami apa arti pelestarian budaya.
Tetapi sebenarnya mereka sedang melakukannya.
Itulah mengapa bagi kami, Gebyar Latika bukan sekadar sebuah acara dan Juara 1 bukanlah garis akhir.
Ia adalah pengingat bahwa seni Sunda masih memiliki tempat, penonton, dan generasi penerus.
Terlebih ketika ruang itu dibuka di tengah masyarakat, mendapat dukungan berbagai pihak, dan diapresiasi langsung oleh Pemerintah Kota Bogor.
Selama masih ada anak yang mau belajar dan masih ada pihak yang mau memberikan ruang, kami akan terus percaya:
seni Sunda belum selesai.
Ia masih tumbuh.
Dan dari Bogor, kami akan terus menari.
Sampurasun.
(acs)